Khutbah Jumat: Hari Buruh: Merajut Harmoni, Menjemput Kesejahteraan Bersama

الْحَمْدُ لِلَّهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِالتَّعَاوُنِ عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى، وَنَهَانَا عَنِ الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Hadirin Jamaah Jumat yang insyaAllah dimuliakan Allah,

Setiap kali kalender menunjuk pada tanggal 1 Mei, perhatian kita senantiasa tertuju pada momen Peringatan Hari Buruh. Kerap kali, momen ini diwarnai dengan turunnya saudara-saudara kita ke jalan, menyuarakan aspirasi, yang kadang kala memunculkan kesan seolah ada jarak yang terbentang antara pekerja dan pemberi kerja; narasi “kami versus mereka”.

Padahal, hadirin sekalian, jika kita renungkan dengan hati yang jernih, esensi sejati dari hubungan ketenagakerjaan dalam pandangan Islam bukanlah tentang perselisihan, melainkan tentang persaudaraan dan kesejahteraan bersama.

Melalui mimbar yang mulia ini, mari kita maknai momentum ini dengan kacamata kebangsaan dan keagamaan yang lebih bijaksana.

1. Kita Berada di Kapal yang Sama

Berdasarkan potret ketenagakerjaan nasional kita saat ini, tercatat ada lebih dari 140 juta saudara sebangsa kita yang setiap harinya memeras keringat, menggerakkan roda ekonomi keluarga dan negara. Namun di saat yang sama, tugas kita belum usai, karena masih ada di kisaran 7 juta saudara kita yang masih berjuang mencari pekerjaan.

Data ini semakin krusial mengingat bangsa kita sedang berada di fase Bonus Demografi, di mana usia produktif mendominasi. Ini adalah peluang emas, namun juga tantangan besar.

Hadirin, jutaan pekerja itu bukan sekadar deretan angka. Di baliknya ada jutaan keluarga yang menggantungkan pendidikan, kesehatan, dan masa depan anak-anaknya. Artinya, buruh, pengusaha, dan pemerintah hakikatnya berada di dalam satu kapal yang sama. Pabrik tidak akan beroperasi tanpa dedikasi pekerja. Sebaliknya, pekerja pun membutuhkan keberlangsungan perusahaan sebagai ladang rezeki.

Rasulullah SAW telah memberikan perumpamaan yang luar biasa indah mengenai hal ini:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan orang-orang beriman dalam cinta dan kasih sayangnya seperti satu tubuh. Jika satu anggota sakit, seluruh tubuh ikut demam.” [HR. Bukhari dan Muslim].

Bila dunia usaha lesu, pekerja yang akan terdampak. Bila pekerja mogok, roda ekonomi akan lumpuh. Semuanya saling terikat. Oleh karena itu, kita harus saling menopang agar kapal besar bernama Indonesia ini terus berlayar menuju kemakmuran.

2. Ukhuwah: Kunci Kesejahteraan yang Berkeadilan

Konstitusi negara kita mengamanatkan bahwa setiap warga negara berhak atas penghidupan yang layak. Layak di sini tentu bukan sekadar cukup makan, melainkan mencakup kesehatan, pendidikan anak, hingga jaminan di hari tua. Di sinilah titik temu antara kebijakan negara dan nilai-nilai ukhuwah (persaudaraan).

Agama Islam memberikan panduan yang sangat seimbang untuk kedua belah pihak:

Bagi para pengusaha dan pemberi kerja: Pandanglah pekerja sebagai mitra, bukan semata-mata faktor produksi. Nabi SAW dengan tegas berpesan:

أَعْطُوا الْأَجِيرَ أَجْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ

“Berikanlah upah pekerja sebelum kering keringatnya.” [HR. Ibnu Majah].

Penyesuaian upah minimum yang senantiasa diupayakan oleh pemerintah pada dasarnya adalah ikhtiar untuk mencari titik keseimbangan antara menjaga daya beli pekerja dan memastikan dunia usaha tetap bernapas panjang.

Bagi para pekerja: Bekerja adalah amanah dan ibadah. Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ

“Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang dari kalian bekerja, ia melakukannya dengan itqan (profesional dan sungguh-sungguh).” [HR. Baihaqi].

Menjaga kedisiplinan, merawat aset perusahaan, dan meningkatkan produktivitas adalah bentuk syukur kita atas rezeki yang Allah titipkan lewat tempat kita bekerja.

3. Keteladanan dalam Berkolaborasi

Hadirin yang dirahmati Allah, kolaborasi harmoni ini bukanlah utopia semata. Sejarah dunia usaha di negeri kita mencatat kisah-kisah keteladanan yang patut kita pelajari.

Kita tentu ingat bagaimana sebuah perusahaan tekstil raksasa di Solo pada tahun 2014 nyaris gulung tikar. Apa yang terjadi? Alih-alih melakukan PHK massal, pihak manajemen dan pekerja duduk bersama. Pekerja bersedia berkorban demi efisiensi, dan pemilik perusahaan rela menjual aset pribadinya demi mempertahankan karyawan. Hasilnya, harmoni itu mendatangkan keberkahan. Perusahaan bangkit, dan ribuan dapur keluarga tetap mengepul.

Begitu pula dengan filosofi tokoh pengusaha nasional, almarhum Bob Sadino, yang selalu memosisikan karyawannya sebagai mitra keluarga. Ketika perusahaan dirawat dengan rasa kepemilikan bersama, maka kemajuan akan dicapai bersama pula.

4. Kesimpulan: Dari Menuntut Menjadi Merangkul

Maka dari itu, ke depan, narasi ketenagakerjaan kita harus bergeser. Bukan lagi tentang siapa yang paling kuat menekan, melainkan bagaimana kita bisa merangkul dan maju bersama.

Pemerintah akan terus hadir sebagai wasit yang adil dan fasilitator yang menjembatani. Namun, ikhtiar itu membutuhkan itikad baik dari kita semua. Allah SWT berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa.” [QS. Al-Maidah: 2].

Mari jadikan Hari Buruh ini sebagai momentum untuk meruntuhkan tembok kecurigaan dan mulai membangun jembatan persaudaraan. Di pabrik, di kantor, di instansi, mari kita buktikan firman Allah:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” [QS. Al-Hujurat: 10].

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kejernihan pikiran bagi para pemimpin kita, kelapangan rezeki bagi para pekerja kita, dan keberkahan bagi bangsa dan negara kita tercinta. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.

(Penutup Khutbah Pertama)

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ مَا اتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ، وَأُذُنٌ بِخَبَرٍ.

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَاحْذَرُوْا طَاعَةَ مَنْ طَغَى وَاسْتَبْدَنَ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ قُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْعَزِيْزِ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ: أَبِيْ بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ، وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

Hadirin Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Mengakhiri khutbah pada hari yang mulia ini, mari kita tundukkan kepala dan hati kita, memohon kepada Allah SWT agar senantiasa mencurahkan rahmat, persaudaraan, dan kesejahteraan bagi bangsa kita.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ.

Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim,

Ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dan dosa para pemimpin kami. Satukanlah hati kami dalam bingkai persaudaraan dan keimanan.

Ya Allah, berkahilah setiap tetes keringat para pekerja di negeri ini. Jadikanlah pekerjaan mereka sebagai ladang ibadah dan jalan menuju rezeki yang halal lagi thayyib untuk keluarga mereka. Lembutkanlah hati para pengusaha dan pemimpin perusahaan agar senantiasa menunaikan hak-hak pekerjanya dengan adil dan penuh kasih sayang.

Ya Allah, hindarkanlah bangsa kami dari perpecahan, permusuhan, dan krisis yang berkepanjangan. Berikanlah petunjuk dan taufik-Mu kepada para pemimpin kami di pemerintahan, agar mampu mengambil kebijakan yang adil, mengayomi semua golongan, serta mewujudkan keadilan sosial dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.

اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ،

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Dr. KH. Khoirul Huda Basyir, Lc, M.Si (Sekretaris Itjen Kemenag)

Untuk mengakses berbagai layanan Kementerian Agama, silakan kunjungi https://kemenag.go.id/layanan
.
Melalui portal ini, Anda dapat memperoleh informasi terkini mengenai, regulasi, pendidikan keagamaan, agenda nasional, publikasi digital, serta berita Kemenag dari pusat dan daerah.

Ikuti juga saluran Kementerian Agama di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029Vb9xP10Fy72KZA2gk81S

Kepala KUA

Pengantar dan Sambutan Kepala Kantor Urusan Agama Kedungadem, M. Kumaidi, S.Ag.

Kantor Urusan Agama sebagai pusat pelayanan keagamaan di Kecamatan Kedungadem Bojonegoro